//
you're reading...
MIKIR

Beberapa Hadits Dha’if (Lemah) n’ Palsu Seputar Puasa Ramadhan

Mungkin kamu, seperti halnya saya, memperhatikan kalo beberapa jam terakhir ini temen-temen kamu mengalami kenaikan tingkat kealiman dengan cukup pesat. Indikatornya..? Yaeeeyalah, STATUS FB.. Yang awalnya suka posting yang nggak jelas (seperti yang biasa saya lakukan), skarang jadi suka posting hadist ataupun segala sesuatu yang berbau Ramadhan. Yang awalnya makek profpict GGL (Ghaolll Ghetthoe Lhooech), sekarang udah makek jilbab atau peci (yang ‘peci’ ini saya bohong). Singkat kata temen-temen kita ini sedang dalamkondisi ALIM MODE: ON atau biasa kita sebut dengan ALIM.COM..

Syukurlah, tentu perlu kita apresiasi, dan tentu hal itu merupakan berita bagus buat kita semua. Setidaknya hal ini bisa mengurangi beberapa indikasi tentang rusaknya moral generasi bangsa kita yang dewasa ini jarang dibicarakan (bahkan para ahli pun nggak tau solusinya). Meskipun untuk sementara..? Nggak, setidaknya, itulah hebatnya RAMADHAN..^^

Masalah utama terkait fenomena ini adalah, kadang-kadang temen-temen tuh suka update hadist yang kebenarannya masih diragukan atau lemah (baca: Dhaif). Meskipun niatnya baik, tapi hasilnya nggak baik bos. Meskipun nggak salah menurut teori Etika Deontologi, tapi salah menurut Etika Teleologi. Meskipun nggak dosa, tapi efeknya nggak bagus buat yang nggak ngerti. Maka dari itu, kamu kudu ngerti mana hadist-hadist yang dha’if dan palsu seputar puasa Ramadhan.

Btw, sekedar tambahan, ini lho hukumnya nyebarin hadist-hadist palsu..

• Secara Muthlaq, meriwayatkan hadits-hadits palsu itu hukumnya haram buat mereka yang sudah jelas tahu kalo hadits itu palsu.

• Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan ngasih tahu ke orang-orang kalo hadits ini adalah palsu (menerangkan ke mereka sesudah meriwayatkan atau mebacakannya) maka nggak ada dosa atasnya… (jadi mungkin saya masuk sini kali ya..??? Hehehehhe)

• Mereka yang nggak tahu sama sekali trus meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits itu karena nggak tahu, maka nggak ada dosa atasnya. Tapi, kalo udah tahu penjelasan kalo riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu, maka sebaiknya segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan sedang dari jalan atau sanad lain nggak ada sama sekali, maka hukumnya tidak boleh (a.k.a berdosa – dari Kitab Minhatul Mughiits).

Jadi, inilah hadist-hadistnya.., contohnya aja lho..

(Eniwei, tulisan ini saya edit dari beberapa tulisan, kalo yang di bawah ini, murni isinya asli,, tanpa editan yang kiranya bias bikin kamu sesat.., hehehhehe..)

1. “Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….” hadits ini panjang…, jadi dipotong disini saja.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu’at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari.

Hadits ini Maudhu’ (palsu), cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata: “Terkenal dengan kelemahan (dha’if)” beliau juga menukil ucapan Abu Nu’aim tentangnya: “Dia itu suka memalsukan hadits.” Al-Bukhari juga berkata, “Haditsnya tertolak”, dan menurut an-Nasai, “matruk” (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya).”

2. “Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/bebas dari neraka..” sampai selesai…

Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadits itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.

Menurut murid ahli hadits ini, hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Salman.

Hadits ini, menurut dua murid ulama Hadits tersebut, sanadnya Dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid.

Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hafalannya.” demikianlah di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

3. “Berpuasalah maka kamu sekalian sehat.”

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas.

Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam al-Ausath (1/Q, 69/ al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Na’im di dalam ath-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya Dha’if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah SAW, hal. 84).

Peringatan bagi orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan dibawakan oleh Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur tiba-tiba ada dua orang yang datang dan memegang pangkal lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang tinggi seraya berkata: “naiklah!” aku berkata: “aku tidak bisa”, keduanya berkata lagi: “kami akan memberi kemudahan kepadamu”, lalu akupun naik sampai ke pertengahan, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: “Suara apa itu?” Mereka menjawab: “Itu suara teriakan penghuni Neraka” Kemudian mereka membawaku mendaki lagi, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang yang digantung dengan urat belakang mereka, dari pinggiran mulutnya mengeluarkan darah. Aku bertanya: “Siapakah mereka?” Dijawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa (pada) bulan Ramadhan sebelum tiba waktunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Shalat Tarawih )

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18).

4. “Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

(Wah, yang ini mah yang parah..O__O)

Hadits ini sering kali kita dengar, paling tidak, maknanya bahwa ada yang mengatakan tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dengan tidur saja. Bahkan barangkali karenanya, shalat lima waktu ada yang bolong padahal kualitas hadits ini adalah DHO’IF (lemah).

Menurut Syaikh al-Albany, hadits ini ada pada riwayat yang lain tanpa periwayat tersebut sehingga dengan demikian, hadits ini bisa terselamatkan dari status Maudlu’, tetapi tetap DHO’IF.

Syaikh al-Albany juga menyebutkan bahwa Abdullah bin Ahmad di dalam kitabnya Zawa-`id az-Zuhd, hal. 303 meriwayatkan hadits tersebut dari ucapan Abi al-‘Aliyah secara mauquf dengan tambahan: ما لم يغتب (selama dia tidak menggunjing/ghibah). Dan sanad yang satu ini adalah Shahih, barangkali inilah asal hadits. Ia Mauquf (yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh Shahabat atau Tabi’in) lantas sebagian periwayat yang lemah keliru dengan menjadikannya Marfu’ (hadits yang sampai kepada Rasulullah). Wallahu a’lam. (Silsilah al-Ahadits adl-Dlo’ifah wa al-Maudlu’ah, jld.II, karya Syaikh al-Albany, no. 653, hal. 106).

Semoga dengan penjelasan ini kita lebih berhati-hati di dalam menyaring hadits yang berkembang dan beredar di sekitar kita, dengan menyikapinya secara kritis dan bertanya tentang kualitasnya bilamana ragu untuk mengamalkannya..

P.S. Mari kita berlomba bikin amal ibadah di bulan ini..^^

Tentang ashakasan

A Painter, not yet a Photographer.. (apapun artinya itu) Orang keras kepala yg gak bakal brhenti dtengah jalan cuma gara2 gak ada satu pun dr 5 milyar orang d planet ini yg mendukungnya.. Orang yg tau kalo kerikil pun bs ngomong.. Orang yg susah buat ngomong 'nggak' ama temennya.. Orang yg lebih memilih telur buat dtaruh dsakunya ktimbang diAir, dLapangan,ato dPohon.. Orang yg g mungkin ngomong "moga Allah memaafkanq krn parasmu menggoyahkan imanq.."

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.